Rabu, 24 Agustus 2011

Shalat Nisfu Sya’ban, Sunnah yang Dianggap Bid’ah oleh wahabi


ajib Banyak orang menuduh shalat nisfu Sya’ban sebagai bid’ah. Mereka menuduh demikian bisa jadi dengan niat yang baik untuk membersihkan praktek ibadah dari Bid’ah dan mengembalikan agar ibadah yang dilakukan sesuai sunah Rasulullah SAW. Alasannya sangat sederhana karena shalat Nisfu Sya’ban tidak pernah dikerjakan jaman Rasul. Benarkah shalat Nisfu Sya’ban bidah? Apakah nabi tidak pernah melakukannya?

Untuk lebih melengkapi khazanah kita, akan kami paparkan pula beberapa pertanyaan yang mengingkari shalat nisfu Sya’ban dari berbagai dialog. Antara lain:
Pertanyaan Pertama:
Tidak ada keistimewaan malam nisfu Sya’ban dibandingkan malam lainnya. Sehingga tidak perlu mengkhususkan ibadah pada malam tersebut. Beberapa Hadis yang menerangkan keutamaan nisfu Sya’ban adalah maudhu’ (palsu) dan dha’if. Sehingga tidak boleh diamalkan.
Para ulama semisal Ibnu Rajab, Ibnul Jauzi, Imam al-Ghazali, Ibnu Katsir dan yang lainnya, menyatakan hadits-hadits yang berbicara seputar keutamaan malam Nishfu Sya’ban ini sangat banyak jumlahnya. Hanya, umumnya hadits-hadits tersebut dhaif, namun ada juga beberapa hadits yang Hasan dan Shahih Lighairihi. Untuk lebih jelasnya, berikut di antara hadits-hadits dimaksud:
Hadis 1

عن علي بن إبي طالب عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((إذا كان ليلة نصف شعبان فقوموا ليلها, وصوموا نهارها, فإن الله تعالى ينزل فيها لغروب الشمس إلى سماء الدنيا, فيقول: ألا مستغفر فأغفرله, ألا مسترزق فأرزقه, ألا مبتلى فأعافيه, ألا كذا ألا كذا, حتى يطلع الفجر)) [رواه ابن ماجه والحديث ضعفه الألبانى


Artinya: "Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah saw bersabda: "Apabila sampai pada malam Nishfu Sya'ban, maka shalatlah pada malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya, karena sesungguhnya Allah akan turun ke dunia pada malam tersebut sejak matahari terbenam dan Allah berfirman: "Tidak ada orang yang meminta ampun kecuali Aku akan mengampuni segala dosanya, tidak ada yang meminta rezeki melainkan Aku akan memberikannya rezeki, tidak ada yang terkena musibah atau bencana, kecuali Aku akan menghindarkannya, tidak ada yang demikian, tidak ada yang demikian, sampai terbit fajar" (HR. Ibnu Majah dan hadits tersebut dinilai Hadits Dhaif oleh Syaikh al-Albany).
Hadis 2

عن عائشة قالت: فقدت النبي صلى الله عليه وسلم فخرجت فإذا هو بالبقيع رافع رأسه إلى السماء, فقال: ((أكنت تخافين إن يحيف الله عليك ورسوله؟)) فقلت: يا رسول الله, ظننت أنك أتيت بعض نسائك. فقال: ((إن الله تبارك وتعالى ينزل ليلة النصف من شعبان إلى سماء الدنيا فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم كلب)) [رواه أحمد والترمذى وابن ماجه وضعفه الألبانى فى ضعيف الترمذى].


Artinya: “Siti Aisyah berkata: “Suatu malam saya kehilangan Rasulullah saw, lalu aku mencarinya. Ternyata beliau sedang berada di Baqi’ sambil menengadahkan wajahnya ke langit. Beliau bersabda: “Apakah kamu (wahai Aisyah) khawatir Allah akan menyia-nyiakan kamu dan Rasul-Nya?” Aku menjawab: “Wahai Rasulullah, saya pikir anda pergi mendatangi di antara isteri-isterimu”. Rasulullah saw bersabda kembali: “Sesungguhnya Allah turun ke dunia pada malam Nishfu Sya’ban dan mengampuni ummatku lebih dari jumlah bulu domba yang digembalakan” (HR. Ahmad, Ibn Majah dan Turmidzi. Syaikh al-Albany menilai hadits riwayat Imam Turmudzi tersebut sebagai hadits Dhaif sebagaimana ditulisnya pada ‘Dhaifut Turmudzi’).
Kedua hadits tersebut adalah hadits yang dinilai Dhaif oleh jumhur Muhaditsin di antaranya oleh Syaikh Albany, seorang ulama yang tekenal sangat ketat dengan hadits.
Namun demikian, di bawah ini juga penulis hendak mengetengahkan Hadits Hasan dan Shahih Lighairihi yang berbicara seputar keutamaan malam Nishfu Sya’ban ini. Hadits-hadits dimaksud adalah:
Hadis 3

عن أبي موسى عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (إن الله ليطلع ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه, إلا لمشرك أو مشاحن) [رواه ابن ماجه وحسنه الشيخ الألبانى فى صحيح ابن ماجه

Artinya: "Dari Abu Musa, Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya Allah muncul (ke dunia) pada malam Nishfu Sya'ban dan mengampuni seluruh makhlukNya, kecuali orang musyrik dan orang yang dengki dan iri kepada sesama muslim" (HR. Ibn Majah, dan Syaikh Albani menilainya sebagai hadits Hasan sebagaimana disebutkan dalam bukunya Shahih Ibn Majah no hadits 1140).
Hadis 4

عن عبد الله بن عمرو عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ((إن الله ليطلع إلى خلقه ليلة النصف من شعبان فيغفر لعباده إلا اثنين: مشاحن, أو قاتل نفس)) رواه أحمد وابن حبان فى صحيحه

Artinya: "Dari Abdullah bin Amer, Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya akan menemui makhlukNya pada malam Nishfu Sya'ban, dan Dia mengampuni dosa hamba-hambanya kecuali dua kelompok yaitu orang yang menyimpan dengki atau iri dalam hatinya kepada sesama muslim dan orang yang melakukan bunuh diri" (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban sebagaimana ditulisnya dalam buku Shahihnya).
Namun, Syaikh Syu'aib al-Arnauth menilai hadits tersebut hadits yang lemah, karena dalam sanadnya ada dua rawi yang bernama Ibn Luhai'ah dan Huyay bin Abdullah yang dinilainya sebagai rawi yang lemah. Namun demikian, ia kemudian mengatakan bahwa meskipun dalam sanadnya lemah, akan tetapi hadits tersebut dapat dikategorikan sebagai hadits Shahih karena banyak dikuatkan oleh hadits-hadits lainnya (Shahih bi Syawahidih).
Hadis 5

عن عثمان بن أبي العاص مرفوعا قال, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إذا كان ليلة النصف من شعبان نادى مناد: هل من مستغفر فأغفر له؟ هل من سائل فأعطيه؟ فلا يسأل أحد شيئا إلا أعطيه, إلا زانية بفرجها أو مشركا)) [رواه البيهقى]

Artinya: “Dari Utsman bin Abil Ash, Rasulullah saw bersabda: “Apabila datang malam Nishfu Sya’ban, Allah berfirman: “Apakah ada orang yang memohon ampun dan Aku akan mengampuninya? Apakah ada yang meminta dan Aku akan memberinya? Tidak ada seseorang pun yang meminta sesuatu kecuali Aku akan memberinya, kecuali wanita pezina atau orang musyrik” (HR. Baihaki).
Dengan memperhatikan, di antaranya, hadits-hadits di atas, maka tidak berlebihan apabila banyak ulama berpegang teguh bahwa malam Nishfu Sya’ban adalah malam yang istimewa, karena bukan hanya dosa-dosa akan diampuni, akan tetapi juga doa akan dikabulkan. Hadits-hadits yang dipandang Dhaif yang berbicara seputar keistimewaan malam Nishfu Sya’ban ini, paling tidak kedudukan haditsnya menjadi terangkat oleh hadits-hadits lain yang berstatus Hasan atau Shahih Lighairihi.
Atau boleh juga dikatakan, karena hadits-hadits dhaif yang berbicara seputar keutamaan malam Nishfu Sya’ban ini dhaifnya tidak parah dan tidak berat, maka satu sama lain menjadi saling menguatkan sehingga kedudukannya naik menjadi Hadits Hasan Lighairihi. Wallahu’alam.
Istimewanya malam Nishfu Sya’ban ini juga dikuatkan oleh atsar para sahabat. Imam Ali bin Abi Thalib misalnya, sebagaimana dikutip Ibnu Rajab, apabila datang malam Nishfu Sya’ban, ia banyak keluar rumah untuk melihat dan berdoa ke arah langit, sambil berkata: “Sesungguhnya Nabi Daud as, apabila datang malam Nishfu Sya’ban, beliau keluar rumah dan menengadah ke langit sambil berkata: “Pada waktu ini tidak ada seorang pun yang berdoa pada malam ini kecuali akan dikabulkan, tidak ada yang memohon ampun, kecuali akan diampuni selama bukan tukang sihir atau dukun”. Imam Ali lalu berkata: “Ya Allah, Tuhannya Nabi Daud as, ampunilah dosa orang-orang yang meminta ampun pada malam ini, serta kabulkanlah doa orang-orang yang berdoa pada malam ini”.
Sebagian besar ulama Tabi’in seperti Khalid bin Ma’dan, Makhul, Luqman bin Amir dan yang lainnya, juga mengistimewakan malam ini dengan jalan lebih mempergiat ibadah, membaca al-Qur’an dan berdoa. Demikian juga hal ini dilakukan oleh jumhur ulama Syam dan Bashrah.
Bahkan, Imam Syafi’i pun beliau mengistimewakan malam Nishfu Sya’ban ini dengan jalan lebih mempergiat ibadah, doa dan membaca al-Qur’an. Hal ini sebagaimana nampak dalam perkataannya di bawah ini:

بلغنا أن الدعاء يستجاب فى خمس ليال: ليلة الجمعة, والعيدين, وأول رجب, ونصف شعبان. قال: واستحب كل ما حكيت فى هذه الليالي

Artinya: “Telah sampai kepada kami riwayat bahwa dua itu akan (lebih besar kemungkinan untuk) dikabulkan pada lima malam: Pada malam Jum’at, malam Idul Fithri, malam Idul Adha, malam awal bulan Rajab, dan pada malam Nishfu Sya’ban. Imam Syafi’i berkata kembali: “Dan aku sangat menekankan (untuk memperbanyak doa) pada seluruh malam yang telah aku ceritakan tadi”.
Dari pemaparan di atas nampak bahwa sebagian besar para ulama salaf memandang istimewa malam ini, karenanya mereka mengisinya dengan mempergiat dan memperbanyak ibadah termasuk berdoa, shalat dan membaca al-Qur’an.
Pertanyaan Kedua:
Shalat Nisfu Sya’ban Bid’ah karena tidak pernah dilakukan Rasul. Sehingga ibadah mereka tidak sesuai sunnah Rasul.
Nama panjang dari shalat Nisfu Sya’ban adalah “SHALAT MUTHLAQ yang dilakukan pada malam Nisfu Sya’ban”. Untuk memudahkan pengucapan, ulama menyebutnya shalat nisfu Sya’ban.
Karena termasuk jenis shalat Muthlaq, maka boleh dikerjakan kapan saja termasuk malam pertengahan Sya’ban selama dikerjakan tidak pada waktu yang dilarang. Kalau pada malam yang lain boleh melakukan shalat Muthlaq, maka pada malam nisfu Sya’ban juga boleh.
Membid’ahkan shalat nisfu Sya’ban sama dengan membid’ahkan shalat Muthlaq yang sunnah.
Apalagi ada hadis yang menyatakan bahwa Rasul menggiatkan qiyamul layl pada malam nisfu Sya’ban. Semakin kuat lah dasar shalat nisfu Sya’ban.

ومنها حديث عائشة ـ رضي الله عنها ـ قام رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ من الليل فصلى فأطال السجود حتى ظننت أنه قد قُبِضَ، فَلَمَّا رفع رأسه من السجود وفرغ من صلاته قال: “يا عائشة ـ أو يا حُميراء ـ ظننت أن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ قد خَاسَ بك”؟ أي لم يعطك حقك . قلت: لا والله يا رسول الله ولكن ظننت أنك قد قبضتَ لطول سجودك، فقال: “أَتَدْرِينَ أَيُّ ليلة هذه”؟ قلت: الله ورسوله أعلم، قال “هذه ليلة النصف من شعبان، إن الله عز وجل يطلع على عباده ليلة النصف من شعبان، فيغفر للمستغفرين ، ويرحم المسترحِمِينَ، ويُؤخر أهل الحقد كما هم” رواه البيهقي من طريق العلاء بن الحارث عنها، وقال: هذا مرسل جيد.

Dari A’isyah: “Suatu malam rasulullah salat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah usai salat beliau berkata: “Hai A’isyah engkau tidak dapat bagian?”. Lalu aku menjawab: “Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama”. Lalu beliau bertanya: “Tahukah engkau, malam apa sekarang ini”. “Rasulullah yang lebih tahu”, jawabku. “Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambanya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki” (H.R. Baihaqi) Menurut perawinya hadis ini mursal (ada rawi yang tidak sambung ke Sahabat), namun cukup kuat.
Bahkan kalau kita menyandarkan pada hadis di atas, justru MEREKA YANG SHALAT PADA MALAM NISFU SYA’BAN IBADAHNYA SESUAI SUNNAH RASUL.
Pertanyaan Ketiga:
Shalat Nisfu Sya’ban saja Bid’ah, apalagi melakukannya secara berjamaah. Semakin jauh dari Islam. Kalaulah memang bagus mengapa Rasul dan sahabat tidak melakukan? Padahal Mereka adalah generasi terbaik.
Saudaraku, selama ada dalil umum yang membolehkan, maka mengenai tekhnisnya berjamaah atau tidak, dapat diatur menurut kondisi dan keadaan.
Pelaksanaan mengisi malam Nishfu Sya’ban diberjamaahkan ini pertama kali dilakukan oleh ulama tabi’in yang bernama Khalid bin Ma’dan, lalu diikuti oleh ulama tabi’in lainnya seperti Makhul, Luqman bin Amir dan yang lainnya. Bahkan terus berlanjut dan menjadi tradisi ulama Syam dan Bashrah sampai saat ini.
Meski tidak dilakukan pada masa Rasulullah saw dan para sahabatnya, kami lebih condong untuk mengatakan tidak mengapa dan tidak dilarang. Tidak semua yang tidak dipraktekkan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya menjadi sesuatu yang tidak boleh dilakukan. Selama ada hadits dan qaidah umum yang membolehkan, maka mengenai tehnis, apakah diberjamaahkan atau sendiri-sendiri, semuanya diserahkan kepada masing-masing dan tentu diperbolehkan. Hal ini sebagaimana tradisi takbir berjamaah pada malam hari raya.
Hal ini tidak dilakukan pada masa Rasulullah saw dan para sahabatnya. Rasulullah saw dan para sahabat hanya melakukannya di rumah masing-masing. Tradisi berjamaah membaca takbir pada malam Hari Raya ini pertama kali dilakukan oleh seorang ulama tabi’in yang bernama Abdurrahman bin Yazid bin Al-Aswad. Dan tradisi ini pun sampai saat ini masih diberlakukan dan diamalkan hampir di seluruh negara-negara muslim.
Demikian juga dengan shalat Tarawih diberjamaahkan. Rasulullah saw hanya melakukannya satu, dua atau tiga malam saja secara berjamaah. Setelah itu, beliau melakukannya sendiri. Dan hal ini berlaku juga sampai masa khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq serta pada permulaan khalifah Umar bin Khatab. Setelah Umar bin Khatab masuk ke sebuah mesjid dan menyaksikan orang shalat tarawih sendiri-sendiri, akhirnya beliau melihat alangkah lebih baiknya apabila diberjamaahkan. Sejak itu, beliau manunjuk sahabat Rasulullah saw yang bernama Ubay bin Ka’ab untuk menjadi imam pertama shalat Tarawih diberjamaahkan. Tradisi ini juga berjalan dan terus dipraktekkan sampai sekarang ini.
Kalaulah shalat qiyamu Ramadhan (Tarawih) yang beliau lakukan selalu tidak berjamaah dengan sahabat, kecuali hanya 1-3 malam saja, boleh dilakukan secara berjamaah, lalu takbir malam ‘Ied juga boleh dilakukan secara berjamaah, mengapa shalat Muthlaq malam nisfu Sya’ban (untuk menyingkat selanjutnya disebut “shalat Nisfu Sya’ban”) tidak boleh dilakukan berjamaah? Tentu ini tidak fair.
Di zaman Rasul, para sahabat dengan melihat rasul qiyamul layl saja mereka sudah melakukannya. Namun di akhir zaman ini jika ada ustad berkata, “wahai umat Islam, shalat tarawih yang dilakukan Rasul tidak berjamaah dan dilakukan di tengah malam (bukan ba’da Isya langsung). Oleh karena itu shalatlah sendiri-sendiri nanti malam.” Yang shalat tarawih pasti sedikit. Kecuali instruksi itu untuk bangun malam dalam rangka menyaksikan final piala dunia antara Belanda Vs Spanyol insya Allah jamaahnya banyak meskipun jam 1.30 malam.
Jadi kondisi zaman mengarahkan untuk shalat tarawih secara berjamaah.
Begitu pula dengan shalat nisfu Sya’ban. Di akhir zaman ini, Kalau shalat Nisfu Sya’ban (apalagi jika 100 raka’at) dilakukan hanya boleh sendiri-sendiri, saya yakin sangat-sangat sedikit orang yang mau menghidupkan malam Nisfu Sya’ban. Namun kalau dilakukan secara berjamaah, satu sama lain dapat saling memotivasi sehingga lebih semangat.
Pertanyaan Keempat:
Terlebih lagi dalam shalat nisfu Sya’ban, mereka menetapkan jumlah 100 rakaat. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasul.
Ada beberapa alasan mengapa saya shalat nisfu Sya’ban 100 rakaat:
1. Karena shalat nisfu Sya’ban termasuk shalat Muthlaq, maka jumlahnya bebas. 10 rakaat boleh, 20, 30, bahkan 100 rakaat juga boleh. Kalau kita sanggup 1.000 rakaat juga tidak ada yang melarang, karena shalat Muthlaq. Mengapa kita berani melarang jumlah tertentu dalam shalat Muthlaq? Apakah kalau 99 rakaat boleh, 101 juga boleh lalu khusus 100 rakaat tidak boleh?
Nabi SAW pernah berkata kepada Bilal, sesudah mengerjakan shalat Shubuh sebagaimana berikut: “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku amalan yang engkau kerjakan dalam Islam yang penuh dengan pengharapan karena aku mendengar suara sandalmu di depanku di syurga”. Bilal menjawab tidak pernah aku melakukan suatu perbuatan yang saya harapkan kebaikannya, melainkan pasti aku bersuci dahulu, baik saatnya malam hari atau siang hari. Sesudah aku bersuci aku melakukan shalat sebanyak yang dapat kulakukan”. (HR. Imam Bukhari dan Muslim)
Jabir bin Hayyan, penemu ilmu Kimia sekaligus orang pertama memperoleh julukan Sufi, melakukan shalat Muthlaq 400 rakaat sebelum memulai penelitian.
Kalau ada seseorang menganjurkan untuk shalat nisfu Sya’ban 77 rakaat karena dia senang dengan angka 7, boleh saja. Namun daripada saya mengikuti dia, lebih baik saya mengikuti para ulama yang shalih.
2. Banyak ulama-ulama shalih yang ahli ma’rifat seperti syekh Abdul Qadir Jailani melakukan shalat nisfu Sya’ban 100 rakaat, begitu pula dengan imam Ghazali dan ulama lainnya. Maka tidak ada salahnya jika kita mengikuti beliau. (baca juga dasar hukum shalat Rajab, Nisfu Sya’ban dll di tqn-jakarta.org)
Dan ikutilah jalannya orang yang kembali kepadaKu (Luqman 31:15)
3. Jumlah 100 rakaat ada hadisnya. Meskipun banyak orang yang menolak hadis tersebut. Namun Imam Ahmad berkata, “hadis dhaif lebih aku sukai daripada pendapat pribadi seseorang”.
Pertanyaan Kelima:
Bacaan dalam shalat Nisfu Sya’ban (al-Ikhlas 10 kali setelah al-Fatihah, sehingga dikallikan 100 rakaat menjadi 1.000 kali membaca al-Ikhlas) adalah bacaan yang mengada-ada. Tidak pernah dilakukan juga oleh Rasul.
Bacaan yang dibaca dalam shalat nisfu Sya’ban setelah al-Fatihah terserah. Ayat manapun termasuk al-Ikhlas boleh dibaca dalam shalat asalkan ayat al-Qur’an. Tidak ada juga ketentuan bahwa surat al-Ikhlas tidak boleh dibaca beberapa kali dalam satu rakaat.

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْءَانِ

karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. (QS. Al-Muzammil:20)
Imam masjid Quba selalu membaca surat Al Ikhlas disetiap habis fatihah, ia selalu menyertakan surat Al Ikhlas lalu baru surat lainnya, lalu makmumnya protes, seraya meminta agar ia menghentikan kebiasaanya, namun Imam itu menolak, silahkan pilih imam lain kalau kalian mau, aku akan tetap seperti ini!, maka ketika diadukan pada Rasul saw, maka Rasul saw bertanya mengapa kau berkeras dan menolak permintaan teman temanmu (yg meminta ia tak membaca surat al ikhlas setiap rakaat), dan apa pula yg membuatmu berkeras mendawamkannya setiap rakaat?” ia menjawab : “Aku mencintai surat Al Ikhlas”, maka Rasul saw menjawab : “Cintamu pada surat Al Ikhlas akan membuatmu masuk sorga” (Shahih Bukhari hadits no. 741).
Kesimpulannya, shalat Muthlaq pada malam nisfu Sya’ban secara berjamaah sebanyak 100 rakaat dengan membaca surat al-Ikhlas 10 kali setiap bada Fatihah DIBOLEHKAN. Jangan sampai kita mengharamkan apa yang dihalalkan Allah. Kalau nabi saja tidak boleh apalagi kita.

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ

HAI NABI, MENGAPA KAMU MENGHARAMKAN APA YANG ALLAH HALALKAN BAGIMU (QS. At-Tahrim:1)
Wallahu a’lam

KEMULIAAN MALAM NISFU SYA`BAN

Nisfu Sya`ban


malam Melakukan Amalan Ibadah pada malam Nisfu sya`ban merupakan hal yang dianjurkan dalam Syariat Rasulullah SAW sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan orang Indonesia mulai dari baca yasin bersama selama tiga kali berturut-turut atau melakukan shalat sunah berjamaah dimasjid dan amaliah-amaliah lainnya.

Kalau kita kaji dari sisi hadits mengenai keutamaan bulan Sya`ban para pakar hadits berbeda pendapat dalam masalah ini, sebagian pakar hadits seperti Imam Turmudzi, Imam Ibnu Khuzaimah, Alhaitsami,Imam Baihaqi mereka mengatakan :bahwa hadits yang dijadikan landasan sangat kuat sekali bahkan Ibnu Khuzaimah mengatakan shahih. Sebagian ulama lain mengatakan haditsnya sangat lemah.
Kemudian setiap pakar hadits mempunyai ketentuan dalam penilaian  sesuai dengan ijtihad mereka dan setiap mujtahid tidak mewajibkan mujtahid lain untuk mengikuti pendapatnya serta tidak boleh mencaci maki atau menghukumi ahli bid`ah sebagaimana yang dikatatan oleh para Ulama (لا إنكار في مسائل الخلاف) tidak boleh mengingkari sesuatu yang masuk katagori perbedaan pendapat.
Ini yang dipraktekkan para sahabat-sahabat Rosulallah dan para Tabiin.bahkan Ibnu Taymiyyah Dalam Fatawanya memberikan komentar dalam hal ini serta mengingatkan kepada umat islam agar tidak mengingkari masalah ini.
Dari sisi lain kita di perbolehkan mengamalkan hadits Dhoif dalam Fadhoil a`mal asalkan Tidak sampai pada derajat pemasuan hadits dan ini menjadi kesepakatan para Ulama( Fathul Mughits, Al-Imam Asshohawi juz 1 hal 268. Tadribu Rowi juz 1 hal 196 ) ini kalau kita berangkat dari pendapat yang mengatakan dhoif.

Dalil –dalil Amaliyah di malam Nisfu Sya`ban
Adapun dalil-dalil yang berkaitan dengan amalan-amalan diatas itu berangkat dari Hadits yang menerangkan tentang keutamaan bulan sya`ban hususnya nisfu sya`ban ditambah dalil umum yang berkaitan dengan kumpul bersama, sebab tidak ada larangan seseorang untuk melakukan ibadah diwaktu tertentu apalagi disana ada anjuran dari rosulullah SAW untuk memperbanyak ibadah dibulan Sya`ban khususnya nisfu sya`ban sebagai mana yang dikatakan ibnu Taimiyyah:

قال ابن تيمية : ” وأما ليلة النصف فقد روى في فضلها أحاديث وآثار ونقل عن طائفة من السلف أنهم كانوا يصلون فيها فصلاة الرجل فيها وحده قد تقدمه فيه سلف وله فيه حجة فلا ينكر مثل هذا وأما الصلاة فيها جماعة فهذا مبني على قاعدة عامة في الاجتماع على الطاعات والعبادات “( ابن تيمية ،مجموع الفتاوى ، ج 23 ص 132

Artinya : Adapun malam Nisfu sya`ban banyak Hadits dan perkataan para sahabat , tabiin yang menjelaskan keutamaannya bahkan para salaf melakukan shalat pada malam tersebut dan melakukan shalat dengan sendiri itu telah dilakukan oleh salaf, makanya tidak boleh diingkari sedangkan shalat berjamaah itu masuk kaidah umum yaitu melaksanakan amal ibadah bersama-sama.
Membaca Surat Yasin
Membaca yasin selama tiga kali itu masuk katagori tawassul sebagimana yang dilakukan oleh tiga orang disaat tertutup dalam goa lalu bertawasull kepada allah dengan amal baiknya ahirnya allah pun menyelamatkan mereka,hadits ini disebutkan oleh Imam Bukhori dalam Shohinya, yang jelas para ulama sepakat bahwa seseorang diperbolehkan untuk bertawssul kepada allah dengan amal baiknya sebab melarang seseorang bertawssul dengan membaca surat yasin itu sama dengan mengingkari hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori diatas.
Sikap Para Ulama
Meramaikan malam nisfu sya`ban dengan ibadah itu telah disepakati para Madzhab Empat yaitu Madhab Hanafi, Maliki,Syafii, Hambali Adapun secara terperinci sbb:
1- Ibnu Abidin Al hanafi dalam kitab : Hasyiah Roddul Muhtar Juz 2 hal 25 begitu juga Ibnu Najem Alhanafi  dalam kitab Bahru Roiq juz 2 hal 56.
2- Imam Dasyuqi Almaliki dalam Kitab Assyrhul kabir juz 1 Hal 399.
3- Imam Syafii Dalam Kitab Umm juz 2 hal 264, Alkhatib Syirbini dalm Mughni Muhataj juz 1 hal 591.
4- IbnuTaimiyyah Alhambali dalam Kitab Majmu` Fatawa juz 23 hal 132 begitu juga Ibnu Rajab Al hambali dalam Kitab Lathiful Ma`arif hal 263 dll.

Faedah Ilmu Terletak Pada Pengamalan Dan Pencatatannya


penuntut-ilmu Al Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al Habsy (Simtudduror)
Dalam kumpulan kalam Al Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al Habsy yang disusun oleh Habib Umar bin Muhammad Maula Khela, berjudul “Jawahirul Anfas Fii Maa Yurdli Rabban Naas” disebutkan, karena begitu bangganya kepada para penuntut ilmu Al Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi Ra pernah berkata, “Aku doakan agar kalian berumur panjang dan memperoleh fath. Ketahuilah setiap Faedah Ilmu terletak Pada Pengamalan dan Pencatatannya, orang yang mengajar sesuai dengan ilmu yang dimiliki, kelak di hari kiamat akan mendapatkan syafaat Rasulullah SAW”.

Habib Ali tak dapat menyembunyikan kegembiraannya bila melihat para pelajar, sampai-sampai beliau berucap, “Jika aku bertemu pelajar yang membawa bukunya, ingin aku mencium kedua matanya”.
Suatu ketika, tepatnya pada hari Ahad, 11 Syawal 1322 Hijriyah, Al- Habib Ali mengundang dan menjamu para pelajar di suatu tempat yang dikenal dengan nama Anisah, yakni tempat yang rindang dan sejuk karena banyaknya pepohonan, sekitar 2 Km dari kota Sewun. Kepada para pelajar itu beliau berkata, “Ketahuilah, hari ini aku mengundang kalian untuk membangkitkan semangat kalian menuntut ilmu. Giatlah belajar, semoga Allah memberkahi kalian”
Tidak itu saja, beliau mengajak para pelajar itu serius menuntut ilmu, sebagaimana dilakukan para salafus shaleh. Dikatakannya, “Bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu. Perhatikan para salaf kalian, mereka menghafal berbagai matan (naskah). Mereka telah hafal kitab Az-Zubad, Mulkah I’rob dan Al-Fiyah di masa kecilnya. Setelah dewasa ada yang telah hafal kitab Al Minhaj, Ihya’ Ulumiddin, dan lainnya”.
Beliau mengingatkan agar ketika menuntut ilmu, para pelajar tidak melalaikan peralatan tulisnya. Sebab, itu sudah menjadi kelengkapan bagi seorang penuntut ilmu yang dapat mendatangkan banyak kemanfaatan. Bahkan, menurutnya, jika tidak memperhatikan kelengkapan tersebut bisa mendatangkan aib baginya.
“Aku ingin setiap pelajar membawa alat-alat tulisnya ketika mengikuti pelajaran. Ketahuilah, keuntungan (faedah) ilmu terletak pada pengamalan dan pencatatannya. Sebaliknya, menjadi aib bagi seorang pelajar jika saat mengikuti pelajaran (menuntut ilmu) ia tidak membawa buku dan peralatan tulis lainnya,” tandasnya.
Larang Remehkan Anak-anak
Pada kesempatan tersebut, Al-Habib Ali benar-benar ingin menuntaskan nasehatnya kepada para pelajar yang amat dicintainya itu. Termasuk tidak sekali pun meremehkan nasihat yang diucapkan anak-anak. Beliau menuturkan, “Pelajarilah cara membunuh atau mengendalikan hawa nafsu, adab dan tata krama. Tuntutlah ilmu baik dari orang dewasa maupun anak-anak. Jika yang mengajarkan ilmu jauh lebih muda dari mu janganlah berkata, “Kami tidak mau belajar kepadanya, aib bagi kami”.
Habib juga mengingatkan pelajar agar tidak segan-segan mengulang pelajaran yang telah diterima dari gurunya. Malah, sebaiknya para pelajar dianjurkan untuk membacanya berkali-kali, sebelum guru pembimbing datang mengajarkan ilmunya. “Pelajarilah pelajaran yang hendak kalian bacakan di hadapan guru. Dengan demikian kalian akan memetik manfaatnya. Tauladani apa yang telah dilakukan oleh kebanyakan salaf kita, saat menuntut ilmu,” ajak beliau.
Beliau juga mencontohkan beberapa ulama besar dari kalangan aslafunas shaleh ketika mereka menuntut ilmu, diantaranya Al Habib Ahmad bin Zein Al-Habsyi yang membaca pelajarannya sebanyak 25 kali sebelum mengikuti pelajaran yang disampaikan gurunya. Setelah itu mempelajari lagi sebanyak 25 kali seusai menerima pelajaran dari gurunya. Bahkan, syeikh Fakhrur Razi mengulang-ulang pelajarannya sebanyak 1000 kali. “Sementara kalian hanya (baru) membuka buku ketika berada di depan guru,” tambah beliau mengingatkan.
Di tengah-tengah para pelajar yang serius mengikuti nasehat-nasehatnya, beliau mengingatkan mereka agar menjauhi sifat dengki dan iri hati. Karena kedua sifat ini dapat mencabut keberkahan ilmu yang telah diperoleh. Beliau juga menceritakan pengalamannya ketika masih belajar.
“Ketika aku masih menuntut ilmu di Mekah. Setiap malam aku bersama kakakku Husein dan Alwi Assegaf mempelajari 12 kitab Syarah dari Al Mihaj, lalu menghafalkan semuanya. Pernah pada suatu hari saat nisful lail (akhir malam) ayahku Al Habib Muhammad keluar dari kamarnya dan mendapati kami sedang belajar. Beliau berkata, Wahai anak-anakku kalian masih belajar? Semoga Allah SWT memberkati kalian”.
Bahaya Makanan Haram
Pada kesempatan lain Habib Ali menggambarkan betapa gembira Rasulullah SAW jika melihat umatnya bersungguh-sungguh thalabul (mencari) ‘ilmu, kemudian mengamalkannya, dan menyampaikan (menyebarkannya) kepada saudaranya sesama umat Islam.
Beliau berkata, “Tidak ada yang lebih menggembirakan hati Rasulullah Muhammad SAW dari melihat upaya umat beliau menuntut ilmu, lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-harinya, dan menyebarkannya kepada saudaranya. Adakah yang lebih berharga dibandingkan kebahagiaan Habibi Muhammad SAW itu ? Dunia dan akhirat beserta segenap isinya tak mampu menyamai kebahagiaan beliau SAW”
Namun, beliau juga mengakui saat itu telah melihat gejala menurunnya semangat menuntut ilmu agama dan mengamalkan serta menyebarluaskannya di kalangan kaum muslimin. Menurutnya, semangat itu telah tidur terlalu lama, bahkan dikhawatirkan akan mati dalam tidurnya. Semangat itu telah hilang, cinta kepada ilmu telah menipis, keinginan berbuat kebajikan semakin melemah. Barangkali itu merupakan gejala awal rusaknya watak manusia. Putra Habib Muhammad Al-Habsyi ini menyatakan, penyebab utama semua itu adalah telah dikonsumsinya makanan haram oleh sebagian, atau bahkan kebanyakan umat Islam.
Diriwayatkan, bahwa Imam Haromain setiap kali ditanya seseorang selalu dapat menjawab. Imam Haromain adalah salah seorang yang menjadi rujukan (tempat bertanya) masyarakat di zamannya. Beliau menghafal ucapan guru beliau, Abu Bakar Al Baqillaniy yang tertulis dalam 12000 lembar kertas mengenai ilmu ushul. Sedangkan, Imam Sufyan bin Uyainah telah menghafal Al Qur’an dan menerangkan makna-maknanya di depan para ulama ketika ia masih usia 4 tahun. Kapan ia membaca Al Qur’an dan menghafalnya, serta kapan ia mempelajari makna-maknanya ?.
Namun suatu kali Imam Haromain ini tidak berkutik dan tidak dapat menjawab ketika menerima pertanyaan. Orang yang bertanya itu kemudian menanyakan mengapa sampai demikian, tidak biasanya beliau tak bisa menjawab. Lalu, Imam Haromain itu kemudian menjawab, “Mungkin ada susu yang masih tersisa di tubuhku”.
Sang penanya semakin penasaran apa yang dimaksud Imam Haromain. Dia kemudian bertanya lagi, “Apa maksudmu wahai Imam ?”. Beliau menjawab, “Dahulu ketika aku masih menyusui, ayahku sangat wara’ (berhati-hati) dalam menjaga kehalalan dan kebersihan minumanku. Beliau tidak membiarkan ibuku makan sesuatu kecuali yang benar-benar halal”.
Al Imam melanjutkan, “Suatu hari seorang budak wanita keluarga Fulan masuk ke rumah kami, tanpa sepengetahuan ibuku. Budak itu meletakkan aku di pangkuannya kemudian menyusuiku. Mengetahui hal itu ayahku sangat marah lalu memasukkan jari tangannya ke dalam mulutku, sehingga aku dapat memuntahkan semua susu yang baru saja kuminum dari budak itu. Namun, rupanya masih ada susu yang tersisa”.
Akhirnya Al Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi berwasiat kepada anak cucu dan keturunannya, termasuk kita semua, agar selalu meniru sikap dan tindakan para salaf ketika mencari ilmu dan beramal ibadah. Beliau berkata, “Wahai anak-anakku sekalian, jika kalian mau berusaha dengan sungguh-sunguh, maka bagimu kesempatan masih amat terbuka. Tauladani amal para salaf. Janganlah kalian menganggap mustahil mujahadah yang telah dilakukan orang-orang terdahulu, sebab mereka diberi kekuatan dhohir-bathin oleh Allah SWT”.
Beliau semakin menekankan perlunya mencontoh amal para salaf. Dituturkannya, “Mereka juga mempunyai niat dan tekad yang kuat untuk mencontoh para pendahulunya dalam berilmu dan beramal. Ketahuilah tidak ada yang menyebabkan manusia rugi, kecuali keengganan mereka mengkaji buku-buku sejarah kehidupan kaum sholihin. Jika riwayat hidup mereka dibacakan kepada orang mukmin, iman mereka akan semakin teguh kepada Allah SWT”.
Sumber catatan FB

Ilmu Adalah Fondasi Dan Amal Adalah Bangunan


ilmu Penyebutan iman dalam sebagian ayat-ayat Al Quran selalu diikuti dengan penyebutan amal shalih. Seperti Firman Allah SWT :
Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur. (Q.S. Fathir: 10)

Ada yang mengatakan, “banyak ilmu tanpa amal adalah penyebab timbulnya dosa-dosa”.
Ada lagi yang mengatakan, “Ilmu adalah fondasi dan amal adalah bangunan”. Fondasi tanpa bangunan adalah sia-sia, ada seorang berkata kepada seorang lainnya yang banyak mempelajari ilmu dan tidak mengamalkannya, “Hai Fulan, apabila engkau habiskan umurmu untuk mengumpulakan senjata, kapan engkau akan berperang?”.
Sahabat Abi Musa berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “perumpaan petunjuk dan ilmuyang Allah SWT mengutusku untuk menyiarkannya adalah seperti hujan yang banyak dan turun kebumi. Ada bumi yang subur, menerima air dan menumbuhkan tanaman serta rumput yamg banyak. Ada pula bumi yang tandus menahan air. Maka Allah SWT memberi manfaat dengannya kepada manusiahingga mereka minum darinya dan menyiram serta menanam. Hujan itu juga turun dibagian kami yang lain. Bumi itu merupakan tanah datar yang tidak menahan air dan tidak menumbuhkan tanaman. Itu adalah perumpamaan orang yang memahami tentang agama Allah SWT dan manfaat baginya ajaran yang aku diutus Allah  untuk menyebarkannya”. (H.R. Bukhari dan Muslim).
Ilmu itu menghidupkan hati dan arwah, sedang air menghidupkan tanah dan jiwa. Manusia telah diumpamakan dengan dengan tanah, karena  sebagiaanya subur. Hujan turun diatasnya sehingga menumbuhkan berbagai macam tumbuhan dan  tanaman seerta buah-buahan. Sebagian tanah menahan air, sehingga bisa dimanfaatkan oleh manusia untuk diminum dan menyiram. Selain itu ada pula tanah yang tidak suburu sehingga tidak bisa menumbuhkan sesuatu dan tidak menahan air. Manusia begitu pula, diantara mereka ada yang belajar ilmu lalu mengamalkannya dan memberi manfaat kepada manusia, diantara mereka ada yang tidak seperti itu, yang dimaksud dengannya ialah anjuran kepada para ulama untuk menjadi tanah yang subur, sehingga memberi manfaat bagi para manusia. Maka Allah SWT meancintai mereka, karena hamba yang paling dicintai Allah SWT ialah yang paling bermanfaat bagi para hamba-Nya.
Wallahu A`lam

Hayati, Manfaat Kemuliaan Bulan Syaaban


rembulan SYAABAN yang sudah melewati pertengahan bulan adalah bulan yang penuh dengan keberkatan dan menyediakan peluang seluasnya untuk melakukan kebajikan dengan memperbanyakkan amal ibadat kepada Tuhan serta kebajikan sesama insan.
Setiap umat Islam tidak sewajarnya meninggalkan Syaaban tanpa menghayati dan menghargai kelebihannya, sebaliknya patut menjadikan Syaaban sebagai bulan percubaan membaiki diri menjadi insan cemerlang sebelum tibanya Ramadan.
Sebahagian ahli hikmah pernah berkata: Sesungguhnya Rejab adalah kesempatan untuk minta ampun daripada segala dosa, Syaaban adalah kesempatan untuk memperbaiki diri daripada segala macam cela dan Ramadan adalah masa untuk menerangkan hati dan jiwa.
Selain menggandakan puasa sunat seperti mana diamalkan Rasulullah SAW, umat
Islam digalakkan banyak berdoa terutama pada malam Nisfu Syaaban antara malam yang paling mustajab memanjatkan doa ke hadrat Allah SWT.
Malam itu juga malam pengampunan, seperti disebut dalam hadis diriwayatkan Imam Ibnu Majah yang mafhumnya: Daripada Yahya ibni Abi Khasir, daripada Irwah, daripada Aisyah berkata: Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah SWT menurunkan rahmat-Nya (memakbulkan doa) pada malam Nisfu Syaaban ke langit bawah (langit dunia), maka Allah SWT mengampunkan hamba-Nya lebih banyak bilangannya daripada bulu kambing Kabilah Bani Kalib.
Syaaban tahun ini, umat Islam diuji dengan pelbagai penyakit jiwa yang berjangkit dan merebak disebabkan tipu daya dunia serta isinya. Di kala insan lain berusaha dan berdoa siang dan malam untuk memperoleh zuriat, ada yang dianugerahkan Allah dengan cahaya mata tidak diingini.
Bayi itu dibuang bagai sampah sarap yang busuk dan jijik, sehingga menjadi habuan binatang liar yang kelaparan. Lebih daripada itu, ada yang mengambil kesempatan menjadikan bayi tidak berdosa sebagai barangan jualan sehingga mengetepikan asal usul agama dan keturunan yang sudah tentu memporak-perandakan nasabnya kelak.
Sebagai persediaan menghadapi Ramadan yang menguji kesabaran dan keimanan, sewajarnya Syaaban sebulan ini dijadikan sebagai percubaan membaiki diri supaya menjadi insan cemerlang, yang lebih baik dari tahun sebelumnya.
Jika pada Ramadan umat Islam wajib berpuasa sebulan lamanya, maka Syaaban diperbanyakkan amalan puasa sunat, lebih daripada kebiasaan. Kesempatan ini juga patut diambil untuk melatih anak berpuasa sebelum mereka wajib melakukannya pada Ramadan nanti.
Begitu juga amalan sunat lain seperti bersedekah dan solat sunat. Syaaban penuh rahmat jangan dibiarkan pergi tanpa memanfaatkan isinya semaksimum mungkin. Tambahan pula, di ambang Ramadan, umat Islam mula membuat persiapan menyambut Aidilfitri.
Amalan bersedekah sedikit sebanyak meringankan beban golongan susah dan amat mengharapkan bantuan mereka yang berkemampuan, sekurang-kurangnya apabila datangnya Ramadan, mereka sudah mampu mengukir senyum dan menunaikan ibadat wajib dengan hati yang tenang.
Qiamullail dan solat sunat di malam hari juga adalah rutin umat Islam pada Ramadan, janggal jika ditinggalkan. Namun begitu, ia sukar dilaksanakan kerana umat Islam di negara kita tidak begitu teruja memeriahkan masjid pada waktu malam dengan amalan solat sunat.
Kadangkala, amalan ini hanya banyak dilakukan di penghujung Ramadan setelah umat Islam mula merasai momentum bulan yang mulia itu, sedangkan Syawal sudah pun hampir bertandang. Maka Ramadan berlalu lagi tanpa sempat beribadah sepuas-puasnya.
Justeru, menjadikan Syaaban yang masih berbaki sebagai percubaan untuk menghadapi Ramadan adalah sebaik-baik tradisi yang perlu dicetuskan setiap umat Islam. Waktu inilah, kita perlu lupakan segala sengketa dan sejarah silam yang tidak memberi kebaikan kepada sesama manusia.
Saat ini bersatu padu di bawah panji agama, memperbanyakkan amalan sunat dan sentiasa berdoa serta merapatkan diri dengan Yang Maha Pencipta supaya kita tidak terpinggir dari golongan yang sentiasa mendapat perhatian dan kasih sayang-Nya.
Amalan malam Nishfu Sya’ban
Disunnahkan untuk memperbanyak shalat malam di malam Nisfu Sya’ban dan berpuasa keesokannya, sebagaimana Hadits Rasul saw :
“Bila sudah masuk Malam Nisfu Syaban maka bangunlah dimalamnya (perbanyak shalat malam dan dzikir) dan berpuasalah disiang harinya, sungguh Allah turun ke langit yg terendah berhadapan dg bumi saat terbenamnya matahari di hari itu (turun ke langit yg terdekat dg bumi = mendekatkan Rahmat Nya kepada hamba Nya), dan berkata: adakah yg beristighfar kuampuni dosanya, adakah yg ditimpa musibah (yg berdoa) hingga kuangkat musibahnya, adakah yg meminta rizki akan kulimpahi rizki, adakah..dan adakah.. (Rasul saw menjelaskan banyak kemuliaan malam itu dari Allah swt menjawab doa doa kita)”.
sumber :
- Tafsir Imam Qurtubi Juz 16 hal 127.
- Sunan Ibn Maajah hadits no. 1388
Walaupun ada pendapat bahwa riwayat ini tdk shahih, namun baik pula kita banyak bermunajat di malam ini karena Pengampunan Allah tercurah di malam ini, sebagaimana riwayat shahih dibawah ini.
dan Rasul saw bersabda bahwa
“malam Nisfu Sya’ban Allah mengampuni semua hamba Nya kecuali Musyrik dan orang yg suka iri dan dengki/pemfitnah.”
(Shahih Ibn Hibban hadits no.5667), (Mawarid Dhamaan hadits No.1980) (Sunan Tirmidzi hadits no.739)

wallahu A`lam…

Fadhilat Bulan Sya’ban Dan Nisfu Sya’aban


night-fairy-full-moon 1. Telah memberitahu kepada kami Abdullah bin Yusuf Telah memberitahu kami Malik daripada Abi An-Nadhri daripada Abi Salamah daripada Sayyidatina ‘Aishah telah berkata : Rasulullah S.A.W berpuasa sehingga kita mengatakan dia tidak berbuka dan baginda S.A.W berbuka sehingga kami berkata dia tidak berpuasa. Dan aku tidak pernah melihat Rassulullah S.A.W menyempurnakan puasa sebulan penuh melainkan pada bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat baginda S.A.W banyak berpuasa melainkan pada bulan Sya’ban.
( Diriwayatkan oleh imam Bukhari di dalam sohihnya dan imam Muslim di dalam sohihnya )

2. Telah memberitahu kami Muaz bin Fudhalah telah memberitahu kami Hisham daripada Yahya daripada Abi Salamah sesungguhnya sayyidatina ‘Aishah telah memberitahunya dengan berkata : Nabi S.A.W tidak banyak berpuasa melainkan pada bulan Sya’ban, dan baginda S.A.W telah berpuasa sebulan penuh pada bulan Sya’ban. Dan adalah baginda S.A.W bersabda : Lakukanlah amalan yang mana kamu mampu membuatnya maka sesungguhnya Allah tidak membebankan ( mewajib )kamu sehingga kamu merasa berat dengan bebanan. Dan apa yang disukai oleh Rasulullah S.A.W adalah sembahyang(sunat) yang sentiasa dibuat sekalipun sedikit. Dan adalah baginda S.A.W apabila mendirikan sembahyang maka baginda S.A.W sentiasa berterusan di dalam berbuat demikian.
( Diriwayatkan oleh imam Bukhari di dalam sohihnya dan imam Muslim di dalam sohihnya)
3. Telah memberitahu kami Sufian bin ‘Uyainah daripada Ibn Abi Labid daripada Abi Salamah telah berkata : Aku telah bertanya Sayyidatina ‘Aishah tentang puasa Rasulullah S.A.W maka dia menjawab : Adalah baginda S.A.W berpuasa sehingga kami berkata : Sesungguhnya baginda S.A.W telah berpuasa dan baginda s.A.W berbuka sehingga kami mengatakan : Telah baginda S.A.W berbuka. Aku tidak pernah melihat baginda S.A.W berpuasa dari sebulan sahaja lebih banyak daripada puasa baginda S.A.W pada bulan Sya’ban. Kadang-kadang baginda S.A.W berpuasa Sya’ban sebulan penuh dan kadang-kadang baginda S.A.W berpuasa sedikit daripadanya.
(Diriwayatkan oleh imam Muslim di dalam sohihnya)
4. Telah memberitahuku Muawiyah bin Soleh daripada Abdullah bin Abi Qais sesungguhnya dia telah mendengar Sayyidatina ‘Aishah berkata : Bulan yang disukai oleh Rasulullah S.A.W yang mana baginda S.A.W berpuasa padanya adalah bulan Sya’ban kemudian disambung puasa pada bulan Ramadhan.
( Hadis ini sanadnya Hasan dan diriwayatkan oleh Abu Daud, An-Nasaei, Ibn Khuzaimah, Al-Baihaqi dan Al-Baghawi)
5. Telah memberitahuku Al-Maqburi daripada Abu Hurairah daripada Usamah bin Zaid telah berkata: Aku telah berkata : Wahai Rasulullah! sesungguhnya kau telah melihat engkau berpuasa pada bulan yang mana aku tidak melihat engkau berpuasa pada bulan yang mana engkau puasa padanya. Soal Rasulullah S.A.W : Bulan apa? Aku telah berkata: Sya’ban bulan diantara Rejab dan Ramadhan yang mana melupai manusia mengenainya(diangkat kepadaNya) segala amalan semua hamba maka aku lebih suka amalanku tidak diangkat melainkan bersamanya aku berpuasa. Mka aku berkata lagi: Aku melihat engkau berpuasa pada hari Isnin dan Khamis dan tidak mengabaikan kedua-dua hari itu.Sabda baginda S.A.W : Sesungguhnya segala amalan semua hamba akan diangkat pada kedua-dua hari itu maka aku lebih suka tidak diangkat amalanku melainkan bersamanya aku berpuasa.
( Hadis ini sanadnya Hasan dan telah dikeluarkan oleh An-Nasaei, Imam Ahmad dan imam Al-Baihaqi )
HADIS MENGENAI KELEBIHAN MALAM NISFU SYA’BAN
1. Daripada Makhul daripada Malik bin Yakhamir daripada Muaz bin Jabal daripada Nabi S.A.W telah bersabda: Sesungguhnya Allah ta’ala memerhati makhlukNya pada malam nisfu(pertengahan) daripada Sya’ban maka Dia akan mengampuni semua makhlukNya melainkan orang yang syirik atau orang yang bermusuhan.
( Hadis ini isnadnya Hasan dan dikeluarkan oleh Ibn Habban, Al-Baihaqi dan At-Thobarani )
2.Daripada Hisham bin Hassan daripada ( Al-Hasan daripada) Usman bin Abi Al-’As daripada Nabi S.A.W telah bersabda : Apabila tibanya malam nisfu (pertengahan) daripada bulan Sya’ban, pemanggil akan memang- gil : Adakah daripada mereka yang memohon keampunan maka nescaya diampun baginya ? Adakah daripada kalangan mereka yang meminta maka akan diberi? Maka tidak ada seseorang yang memohon sesuatu melainkan akan diberi melainkan penzina dengan kemaluannya ataupun orang syirik.
( Hadis ini isnadnya Hasan dan dikeluarkan oleh Al-Kharaiti, Al-Baihaqi dan imam Sayuti )
Penerangan Hadis
1. Hadis-hadis ini menjelaskan kepada kita bagaimana kelebihan bulan Sya’ban yang mana Rasulullah S.A.W sentiasa berpuasa bahkan melebihi bulan-bulan yang lain.
2. Hadis-hadis ini juga menerangkan bagaimana hukum berpuasa pada bulan Sya’ban iaitu sunat bukannya wajib. Oleh itu baginda S.A.W kadang-kadang berpuasa penuh sebulan pada bulan ini dan pada suatu ketika baginda tidak berbuat demikian. Kita perlu ingat bahawa setiap perbuatan Rasulullah S.A.W merupakan sunnah fi’liyyah (sunnah yang berasaskan perbuatan) yang boleh dijadikan hujjah di dalam mengeluarkan sesuatu hukum.
3. Baginda S.A.W juga menggalakkan kita agar di dalam melakukan sesuatu yang baik terutama dalam ibadat khusus seperti solat sunat, puasa sunat dan sedekah maka ia mestilah dilakukan secara berterusan walaupun sedikit. Kita kadang-kadang melakukan perkara ini secara banyak tetapi tidak berterusan dan ia dilakukan apabila timbulnya perasaan rajin sahaja. Ini menyebabkan kita kurang merasai hikmat dan kesan daripada amalan tersebut. Ini kerana apabila ia dilakukan secara berterusan akan mendatangkan kepada kita perasaan untuk menghisab dan menghitung diri sendiri secara berterusan dan ini akan melahirkan individu yang sentiasa berada dalam ibadat dan mengingati Allah setiap masa dan tempat sama ada ditikar sembahyang, ketika belajar mahupun ketika berkerja.
4. Galakan ini juga bertujuan untuk melatih dan membiasakan kita dengan berpuasa sebelum masuknya bulan Ramadhan yang memang kita mesti berpuasa padanya.
5. Baginda juga menekankan bagaimana seseorang muslim mesti percaya bahawa setiap amalan yang dilakukan bukanlah sia-sia malah ia akan diangkat kepada Allah untuk dihisab kualitinya. Apabila perasaan ini timbul sepanjang kehidupan dan peribadatan kita seharian akan menyebabkan kita semakin yakin kepada balasan Allah terhadap apa yang telah kita sama-sama tunaikan. Ini dapat menghindarkan diri daripada melakukan sesuatu ibadat sambil lewa dan penuh dengan perasaan malas dan juga mampu memberi peringatan agar jangan mendekati segala maksiat kerana setiap gerak laku kita diperhati dan dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
6. Baginda S.A.W juga menjelaskan bagaimana adanya waktu-waktu tertentu yang mempunyai kelebihannya tersendiri seperti pada hari Isnin dan Khamis serta pada bulan Sya’ban terutama pada malam pertengahan bulannya. Baginda S.A.W juga mengajar kita agar menggunakan kesempatan yang ada dengan berdoa dan beribadah kepada Allah.
7. Islam mengajar kita agar menjaga masa dan menggunakan peluang yang ada untuk beribadat bukannya dihabiskan begitu sahaja disebabkan kita tidak merasa berdosa apabila tidak mempedulikan masa. Orang kafir mapu menjaga masa dan menggunakan masa untuk perkara berfaedah serta tidak kurang juga digunakan untuk mengatur strategi di dalam menyerang Islam. Adakah kita terus hanyut dibuai mimpi sedangkan musuh Islam telah lama merancang untuk menghancurkan kita.
8. Islam mahu melahirkan umat yang berkualiti dalam ibadat, masa dan pekerjaan yang mana ia tidak menyuruh kita sekadar menunaikan ibadat khusus seperti sembahyang, puasa dan bersedekah sahaja tetapi juga menekankan agar setiap ibadat yang dilakukan mampu melahirkan umat yang sedar siapa mereka dan apa tanggungjawab mereka. Ingatlah bahawa Rasulullah S.A.W pernah memarahi sahabat yang hanya mahu beribadat khusus sahaja sedangkan baginda S.A.W sendiri bukan sahaja merupakan orang yang kuat beribadat khusus, memohon keampunan malah baginda juga sebagai bapa, suami, ahli masyarakat dan juga yang paling besar dan berat adalah sebagai pemimpin negara. Semuanya dikira ibadat jika dilakukan mengikut landasan Islam. Kita jangan termakan dengan dakyah sesat golongan kuffar yang menyatakan ibadat adalah perkara yang berkaitan dengan sembahyang, puasa, haji dan ibadat khusus yang lain sahaja tanpa mempedulikan kewajipan kita yang besar seperti tanggungjawab terhadap kerja, keluarga, masyarakat setempat dan juga pemerintahan negara.
9. Islam mencela mereka yang syirik, berzina dan bermusuhan yang mana doa mereka tidak dimaqbulkan.
Bibiografi
1. Fathul Bari syarah sohih Bukhari oleh Ibnu Hajar jilid 4 cetakan Maktabah Al-Risalah Al-Hadisah
2. Syarah Sohih Muslim oleh imam An-Nawawi jilid 15/16 cetakan Darul Makrifah
3. Kitab Fadahailul Auqat oleh Abi Bakar bin Al-Husin Al-Baihaqi di kaji oleh Adnan Abdul Rahman Majid Al-Qaisi cetakan Maktabah Al-Manarah Makah Mukarramah

Kelebihan Syaaban Dan Malam Nisfu Syaaban


bulan Kelebihan bulan Syaaban dan malam Nisfu Syaaban, saya nukilkan beberapa hadis dari kitab Sahih Al-Bukhari dan kitab Al-Mutajir Ar-Raabih fi thawab Al-Amal As-Soleh karangan Al-Hafiz Ad-Dimyaty. “Nisfu” bermakna separuh atau 14hb. Kitab Sahih Al-Bukhari dan Sahih Muslim adalah rujukan paling utama dalam Islam selepas Al-Quran.

Abdullah b Yusuf menyampaikan kepada kami, dari Malik, dari Abi An-Nadr, dari Abi Salamah, dari Aisyah ra. dia berkata (bermaksud), “Adalah Rasulullah saw berpuasa sehingga kami mengatakan dia tidak berbuka. Dia saw berbuka sehingga kami mengatakan dia tidak berpuasa. Aku tidak pernah melihat Nabi saw berpuasa penuh satu bulan melainkan (dalam bulan) Ramadan. Aku tidak pernah melihat dia saw berpuasa lebih banyak selain dari bulan Syaaban” (Hadis Sahih No. 1969 riwayat Imam Al-Bukhari).
Muaz bin Fadhalah menyampaikan kepada kami, dari Hisyam bin Yahya, dari Abi Salamah, bahawa Aisyah ra meriwayatkan kepadanya dengan berkata, “Nabi saw tidak pernah berpuasa dalam satu bulan lebih banyak dari bulan Syaaban. [Nabi saw berpuasa bulan Syaaban semuanya - lafaz Al-Bukhari]. Nabi saw bersabda, “Beramallah dengan mengikut kemampuan kamu, kerana sesungguhnya Allah tidak akan jemu sehingga kamu yang jemu (dulu – pent)”. Aisyah ra menyambung,“Solat yang paling disukai Nabi saw ialah solat yang dikerjakan berterusan walaupun sedikit. Adalah Nabi saw apabila solat, dia mengerjakannya secara konsisten” (Hadis Sahih No. 1970 riwayat Imam Al-Bukhari).
Abu Mikmar menyampaikan kepada kami dari Abdul Warith, dari Abu At-Tayyah, dari Abu Uthman, dari Abu Hurairah ra. berkata (bahawa) kekasihku (Nabi saw) telah mewasiatkan kepadaku 3 perkara (iaitu) puasa 3 hari setiap bulan (13, 14 dan 15hb), 2 rakaat Dhuha dan Solat Witir sebelum aku tidur”. (Hadis Sahih No. 60 riwayat Imam Al-Bukhari).
Abdullah bin Maslamah menyampaikaan kepada aku dari Malik, dari Ibnu Syihab, dari Abi Salamah dan ayahku Abdullah Al-Agharry, dari Abu Hurairah ra sesungguhnya Rasulullah saw bersabda (bermaksud) “Tuhanku tabaaraka wa taala turun ke langit dunia setiap malam bila tinggal 1/3 akhir malam dan berfirman: Mana orang yang berdoa kepada aku, untuk Aku memperkenankan doanya ? Mana orang yang meminta kepada Aku, untuk Aku berikan kepadanya ? Mana orang yang memohon keampunan Ku, untuk Aku mengampuninya ? (Hadis Sahih No. 1145 riwayat Imam Al-Bukhari).
Di dalam Hadis-hadis Sahih riwayat Imam Al-Bukhari di atas, tidak disebut secara khusus puasa sunat hari Nisfu Syaaban ie. 14 atau 15hb Syaaban, namun disebut secara khusus berpuasa sunat pada 13, 14 dan 15hb setiap bulan yang mana termasuklah didalamnya hari pertengahan Syaaban (nisfu Syaaban). Di dalam hadis Sahih Al-Bukhari diatas juga tidak disebut secara khusus berqiamullail malam Nisfu Syaaban, tetapi disebut berqiamullail disetiap malam, dan yang mana ini termasuklah malam pertengahan Syaaban (nisfu Syaaban).
Adapun berqiamullail pada malam Nisfu Syaaban dan berpuasa pada siang harinya, dengan secara khusus menyebut kalimat “Nisfu Syaaban”, status hadis-hadisnya (sahih, hasan sahih, hasan, dhaif, maudhuk dll) adalah menjadi perbincangan akademik para ulamak hadis. Jika tidak mencapai ke tahap Sahih, ia tidak boleh dijadikan hujah Syarak, namun jika dipadankan dengan Hadis-hadis Sahih riwayat Imam Al-Bukhari diatas, ia boleh dijadikan panduan untuk Fadhail A’mal (Fadhilat-fadhilat Amal Ibadah) dalam Islam. “Tiada halangan dibuat penyiasatan ilmiah yang bersih dalam masalah khilaf dalam suasana kasih sayang di jalan Allah dan bekerjasama kearah mencapai perkara yang sebenar, tanpa usaha tersebut membawa kepada perdebatan yang tercela dan taksub” (Imam Hasan Al-Banna).
Akhirnya nanti, secara amalinya, bangun malam (qiamullail) dan berpuasa 14hb Syaaban adalah ibadah yang Syar’iyy, merupakan salah satu taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah) dan bukan bid’ah.
Berikut adalah sebahagian hadis-hadis berkenaan Nisfu Syaaban dari kitab Al-Mutajir Ar-Raabih fi thawab Al-Amal As-Soleh karangan Al-Hafiz Ad-Dimyaty:
Dari Usamah b Zaid ra berkata, “Aku bertanya, ya Rasulullah. Aku tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam bulan-bulan lain sepertimana engkau berpuasa dibulan Syaaban”. Rasulullah bersabda, “Ia adalah bulan yang manusia lalai terhadapnya, diantara Rejab dan Ramadan. Ia adalah bulan yang diangkat amalan-amalan kepada Tuhan sekelian alam, maka aku suka amalanku diangkat sedang aku berpuasa” (riwayat An-Nasaie).
Dari At-Tarmizi dengan sanad-sanadnya dari Anas ra. dia berkata, “Nabi saw ditanya apakah bulan selepas Ramadan yang terafdhal berpuasa”. Nabi saw menjawab bermaksud, “Bulan Syaaban kerana untuk mengagungkan Ramadan”. Nabi saw ditanya lagi, “Sedekah apakah yang terafdhal?”. Nabi saw menjawab, “Sedekah dibulan Ramadan”. Kata At-Tarmizi, hadis ini hadis Hasan Sahih.
Dari Ibnu Majah dari Ali ra. dari Nabi saw bersabda bermaksud, “Apabila tiba malam Nisfu Syaaban, lalu berqiyamullail pada malamnya, dan berpuasa di siangnya, maka sesungguhnya Allah swt turun ke langit dunia ketika matahari terbenam dan berfirman, “Adakah disana orang yang memohon keampunan, lalu Aku mengampunkan dia ? Adakah di sana orang yang memohon rezeki, lalu Aku memberi dia rezeki ? Adakah di sana orang yang di beri ujian bala bencana, lalu Aku menyejahterakan dia ? Adakah di sana … adakah di sana … ? sehingga terbit fajar”.
Dari Al-Baihaqy dengan sanad-sanadnya dari Aisyah ra. bahawa Nabi saw bersabda bermaksud, “Jibril telah mendatangi aku dan berkata: Malam ini adalah malam Nisfu Syaaban. Pada malam itu Allah membebaskan hamba-hamba dari siksaan Api Neraka seramai bilangan kambing Bani Kalb (merentasi satu tempat) selama sebulan. pada malam itu Allah tidak menoleh kepada orang yang melakukan syirik, pengadu domba (kaki batu api), pemutus silaturrahim, penderhaka kepada kedua ibu bapa dan orang yang ketagih arak”. Bani Kalb adalah kabilah Arab yang terbesar atau yang memiliki bilangan kambing yang terbanyak.
Akhir kata, Allahumma a’inni ala zikrika wa syukrika wa husni ibadatik (Ya Allah, bantulah aku untuk mengingati, mensyukuri dan beribadah kepadaMu). Ameen ya rabbal alameen…

Sumber: http://pondokhabib.wordpress.com